Jiwa Kewirausahaan Lulusan Perguruan Tinggi


Minimnya angka pengangguran pada suatu tempat adalah efek dari banyaknya lapangan pekerjaan pada tempat tersebut. Lapangan pekerjaan menaruh banyak manfaat baik untuk pendirinya maupun orang lain yang bekerja di dalamnya. Walaupun akan berdampak pada kesenjangan sosial, efek positif dari lapangan pekerjaan jauh lebih besar dan dari efek negatifnya. Penghasilan dari lapangan pekerjaan dapat menghidupi anak bangsa dari kelaparan maupun putus sekolah. Namun lapangan pekerjaan tidak semudah seperti tersenyum untuk terus berdiri. Lapangan perkerjaan memerlukan sumber daya manusia yang handal dan semangat dalam mengembangkan lapangan perkerjaan tersebut. Waktu terus berjalan sehingga manusia yang tadinya berkompeten dalam berwirausahanya itu lambat laun akan menurun potensi diri seiring bertambahnya usia. Hal tersebut tentu dapat mengancam lapangan pekerjaan gulung tikar. Upaya untuk terus berjaya maka diperlukan jiwa muda yang memiliki pemikiran segar dan penuh semangat. Mahasiswa yang duduk diperguruan tinggi sangat pantas untuk meregenersi kewirausahaan. Perlu adanya penanaman tentang motivasi untuk berwirausaha pada mahasiswa agar mereka sadar akan pentingnya kewirausahaan yang menaruh banyak manfaat, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk bangsa dan negara.
Membangun kemampuan wirausaha pada mahasiswa melalui pemberian mata kuliah Pendidikan Kewirausahaan tidak dapat sepenuhnya menjadikan mereka mejadi seorang wirausaha yang sukses. Wirausaha sukses juga sangat ditentukan oleh motivasi kuat dari mahasiswa yang bersangkutan. Umumnya, masalah yang dihadapi perguruan tinggi untuk dapat menjadi wadah dalam menghasilkan wirausaha-wirausaha baru tidak mudah, mengingat kegiatan utama kampus yaitu mengajar dan mentransfer ilmu-ilmu yang telah ada kepada mahasiswa, sehingga tidak mungkin perguruan tinggi dapat menjadi wadah atau organisasi untuk menghasilkan wirausaha-wirausaha yang inovatif. Melalui pembelajaran, pembinaan serta pelatihan tentang kewirausahaan, generasi tua menaruh harapan yang tinggi pada generasi muda untuk memajukan serta mengembangkan kewirausahaan.

Peluang dan Tantangan Kewirausahaan dalam Dunia Pendidikan
Pembentukan jiwa entrepreneurship, ialah jiwa keberanian dan kemauan menghadapi problema hidup dan kehidup-an secara wajar, jiwa kreatif untuk mencari solusi dan mengatasi problema tersebut, jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Salah satu metode untuk menanamkan semangat, jiwa, dan sikap kewirausahaan adalah dengan metode pendidikan life skill. Salah satu jiwa entrepreneurship yang perlu dikembangkan melalui pendidikan adalah kecakapan hidup (life skill). Life skill adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Dalam banyak kegiatan pembinaan kewirausahaan, tumbuh pemikiran baru untuk mengembangkan daya sekolah dalam membangun berkoperasi, beternak, berdagang, mengembangkan jasa pelayanan publik atau kegiatan produktif. Sementara itu, banyak yang melupakan bahwa kegiatan kewirausahaan juga dapat diperluas maknanya. Bagaimana sekolah menghasilkan perilaku yang memiliki karakter yang kreatif, inovatif, dan pantang menyerah, sehingga berdampak pada pembentukan pribadi yang dinamis yang siap menyambut masa depan yang serba berubah. Tantangan utama kewirausahaan dalam dunia pendidikan adalah pola pikir kita yang menghalangi kemajuan entrepreneurship di Indonesia. Para generasi muda, memiliki pola pikir bahwa mereka belajar di sekolah untuk akhirnya menjadi pencari kerja daripada pencipta kerja. Sebenarnya hal ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional kita.
Hal ini didukung dengan nilai budaya dalam sebagian besar anggota masyarakat kita, bahwa menjadi seorang entrepreneur tidak sebaik menjadi pegawai terutama pegawai negeri. Sebagai contoh, dalam sebagian besar masyarakat Jawa, status paling terhormat diberikan kepada keluarga kerajaan, yang berikutnya ialah “Amtenar” yaitu pegawai negeri, dan yang terendah, ialah para pengusaha dan pedagang. Keluhan ini juga dijumpai di kalangan mahasiswa. Mereka mengeluh karena mereka tidak direstui dan didukung oleh orang tua jika mereka ingin menjadi seorang entrepreneur. Menjadi seorang entrepreneur bisa menjadi sebuah aib bagi keluarga.

Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian Entrepreneur
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepribadian enterpreneur terdasap seseorang, yaitu Pertama, faktor pendidikan yang terkait dengan formal dan informal sangat mempengaruhi usaha-usaha yang bersangkutan untuk meningkatkan tingkat kedewasaan intelektual, di mana seseorang memiliki kemampuan untuk membangun satu kebiasaan efektif, sehingga ia berkesempatan meningkatkan kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan dalam mengikuti perubahan.
Kedua, faktor kelamin. Sebagai manusia yang diciptahan Tuhan menjadikan laki-laki dan perempuan sesuai dengan kodratnya, tetapi mereka bisa berperan saling melengkapi. Jadi, bila seorang laki-laki akan berusaha untuk mengembangkan tingkah laku yang sopan, begitu pula perempuan. Ketiga, faktor keluarga. Dalam hal ini banyaklah pengaruh dari keturunan sebagai pembawaan dari turun temuran sebagai proses biologis dalam mengenai ciri-ciri orang tua yang diteruskan kepada keturunannya. Keempat, faktor kepercayaan. Memainkan peranan yang besar mempengaruhi usaha-usaha pengembangan kepribadian karena sebagai manusia yang diciptakan Tuhan, seseorang percaya dan memiliki keyakinan, sehingga seseorang memiliki keimanan dan agama yang dianutnya. Dengan kepercayaan itu, memotivasi kekuatan sikap dan perilaku.
Kelima, faktor masyarakat sangat mempengaruhi cara berpikir, bersikap, berperilaku, bahkan juga menumbuhkan nilai-nilai yang kadang kala bertentangan dalam hidup ini. Oleh karena itu, setiap masyarakat mempunyai pandangan sendiri-sendiri mengenai kepribadian manakah yang baik dan patut dihargai. Dalam masyarakat, orang biasanya mengagumi pria dan wanita yang dapat mengendalikan perasaan, bermoral teguh dapat menyesuaikan diri dapat bergaul dan ingin memperbaiki dirinya. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan keperibadian tersebut, maka seseorang mampu berpikir bagaimana sebaiknya memenuhi keperluan dalam perjalanan hidupnya. Pengertian keperluan disini adalah tuntut-an kodrat kita sebagai manusia yang harus dipenuhi secara benar dan tepat agar dapat meraih keberhasilan dan bahagia.

SUMBER :


Comments